Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Tentang Dirinya, dari "Dirimu, Dirinya, Diri yang lain, Diriku"

Aku akan buat jalan jika kamu membuka jalan.... Pertemuanmu denganku membuatku berpikir tentang beberapa hal setelah kita berpisah: 1. Kau lebih muda beberapa tahun dariku, ketika kau pergi untuk menuntut ilmu di sekolah menengah atas di negeri panda, aku sedang belajar bahasa negeri panda di tahun ketiga  2. Kau datang bersama ibumu, namun tidak satupun pertanyaan yang keluar dari ibumu untukku, sementara aku dan ibumu ada eye contact. Mungkin itu caranya menilai, namun apakah tidak bisa untuk hanya sekedar pertanyaan basa-basi. Ataukah dari awal ibumu sudah tahu bahwa tidak akan berjalan? Hm... Hanya ibumu yang tahu 3. Kau patuh pada ibumu, aku suka dengan kriteria ini. Namun alih-alih kau mendengarkannya, bisa jadi ku melihatmu adalah apa yang ia ucapkan adalah mutlak yang menjadi jalanmu. Artinya bisa saja kedepannya kau tidak bisa menentukan jalanmu sendiri. Mungkin... Namun kuharap tidak Pada pertemuan itu aku nothing to loose. I'm curious what kind of person you are. After t...

Sequel : Tulisan terakhir tentangmu

Gambar
Selama aku belajar untuk berkomunikasi dengan 'diriku', ada satu waktu aku selalu bertanya hubungan seperti apa yang kita berdua miliki. Apakah ada hubungan di masa lalu? Apakah hubungan ini lebih dari seorang teman, sahabat? Benarkah spesial bagai martabak? Dan jawaban yang saya dapat adalah iya. Kita berdua bisa jadi adalah suami istri di masa lalu. Jujur, aku percaya.  Masih ingat dalam ingatan, saat mengantri kedatangan kereta di stasiun jam 7 atau setengah 8, tiba-tiba terbesit kata-kata dibawah ini, secara cepat aku menulisnya di notes. Lalu kutulis ulang di diari sebelah yang terkunci.  Ku ingat sekali aku merasakan aku pernah begitu mencinta dirimu di masa lalu. Entah karena memang pemikiranku yang mendalam denganmu atau memang terbisikinya diriku tetang kita berdua. Yang ku tahu, setelah menulis itu, aku harus bisa melepasmu dengan ikhlas. Tidak lagi menggantungkan hatiku sebagi sebuah rasa, namun disimpan disebuah ruang hatiku sebagai dia yang spesial, ka...

Dirimu, Dirinya, Diri yang lain, Diriku

Dirimu, Hai kamu yang beberapa waktu lalu dengan indikasi tersebut yang menjadi salah satu harapan dari orangtuaku, ternyata kau tak juga menampakan diri hingga saat ini. Mungkin kau memang bukan untukku.  Aku gapapa koq. *Gapapa cewek tuh selalu ada apa2 ya hahaha*  Gak! Bener gapapa... Sadar koq, aku terlalu berharap itu benar dan aku lupa kalau aku juga harus menyiapkan diri untuk jika tidak terjadi. Kabar baiknya kau ga mulai. Jadinya, it's ok. Kau adalah wacana yg mampir dalam hidupku. Terima kasih ya sudah mampir di cerita hidupku Dirinya, Setelah dirimu lewat, datanglah dirinya. Hanya sekali untuk datang menyapa. Dia yang mengenalkanku padamu pun berharap ada jalan, ku ingin maju namun ku berharap kau buka jalan lebih dahulu baru ku akan maju lebih selangkah atau dua langkah. Namun kenyataannya harapan masih tinggal harapan. Kau tak juga membuka jalan. Yang memperkenalkanmu padaku pun sudah 2x membuka jalan namun tak ada respon dari dirimu.  Ku selalu bertanya 'apa...