Sebatas imajinasi

Aku menginginkan dua hal ini dapat terjadi, entah bagaimana semesta dapat mengaturnya.

Satu, ada seseorang yang kurasa tapi ku tak yakin kalau dia pernah memiliki niatan atau terbesit rasa nyaman denganku. Dia teman seangkatanku dulu, sempat dekat saat menjelang kelulusan namun setelah lulus kami tidak ada kontak sama sekali. Sekalipun itu ada hanya "mampir" dan hingga kini tidak ada lagi kelanjutannya. 
Kau tahu, setiap kali aku berjalan dalam mall dekat tempatku kerja, aku selalu menginginkan untuk bertemu dengannya. Kami bertemu dan dia memeluku sambil mengusap punggungku, pelukan ringan namun menenangkan.

Kedua, aku sedang mengkambing hitamkan seseorang. Dia yang belum tentu berjodoh untuk berpasangan denganku, tapi aku menginginkannya. Dia adalah teman sekelasku dulu saat muda, dia teman sebangku ku di tahun terakhir sekolah menengah 17 tahun yang lalu. Entah, tapi aku mengingikan dia berperan disana, di dalam anganku. Dan cerita selanjutnya adalah mengenai dia.


Part 1 : Pertemuan

Entah bagaimana aku menemukan dia di pintu masuk apartmentku. Dia sangat mabuk sambil berjongkok disana. Aku yang mengenalnya membawanya ke kamarku, ku baringkan dia di kasurku, melepaskan sepatunya, menyelimutinya sambil berguman : "Kotor deh kasurku, sudahlah ya setelah ini ku cuci." Kurasa aku akan membasuhnya dan mengganti bajunya bila dia berkeringat dengan baju milik adikku yang memang ditaruh jika adikku akan mengindap disana. Dan aku tidur di sofa ruang tamu. Heeeeeiii... Bahkan ku pernah berpikir kamarku adalah seperti asrama kamar kedua pada tahun pertamaku di sekolah sana, jadi kami sekamar beda ranjang. Hahahaha.... Back to the original one. Yup.. Karena di kamarku, ya mau ga mau aku tidur di sofa. Oh, setelah dia berbaring di atas ranjangku, kufoto keadaan dirinya. Kukirimkan pesan melalui instagram kepada adiknya, ya aku mengenal adiknya karena kami satu jurusan beda tingkat. Kemudian aku menelponnya untuk melaporkan bahwa kakaknya aman berada ditempatku. Hanya itu, agar keluarganya tidak khawatir. 

Keesokan harinya ku sudah bangun dan bersiap, aku masak nasi goreng untuk diriku dan bagiannya. Siang sekitar jam 10 - 11, dia terbangun sambil mengusap perutnya dan menggaruk kepalanya dengan rambut yang berantakan keluar dari kamar. Aku yang duduk bersandar pada sofa sambil menonton dan menjahit cross-stiching melihatnya langsung mengatakan : "Kau sudah bangun? Minumlah air lemon itu untuk meredakan mabukmu." Dia yang masih belum sadar mengambil air lemon itu kemudian meneguknya hingga habis. "Makan lah, kau pasti lapar. Hanya ada nasi goreng, mau kuhangatkan? Kau duduk saja, aku hangatkan dulu." Kataku. Dia hanya menurut. Setelah itu tersaji, dia pun memakannya. Aku kembali duduk bersandar sofa dan melanjutkan pekerjaanku sambil tertawa karena acara TV. 

Selesai makan, dia melanjutkan berbaring di sofa. Tanpa ada rasa penasaran sama sekali, seakan-akan dia sudah terbiasa ada disana. Melihatnya melanjutkan tidurnya, kubiarkan sebentar. Waktu sudah menjelang siang, akupun sudah bosan dengan yang kukerjakan. Ku bangukan dia, kutanya apakah dia mau pulang atau mau berjalan-jalan di mall dekat apartmentku. Dia tanya apa yang akan kita lakukan di mall, ku bilang kita bisa pergi nonton atau hanya sekedar jalan-jalan karena aku bosan. Dia pun setuju untuk berjalan-jalan denganku dan aku memintanya untuk menginap kembali jika dia tidak mau pulang, kebetulan besok masih libur. Aku minta dia untuk mandi dan mengenakan baju adikku. Setelah bersiap kamipun berjalan-jalan di mall. 

Entah bagaimana dari pergi hingga pulang, ia menggenggam tanganku. Dan baru dilepaskan saat sampai kembali di apartmentku. Kami bersama duduk di sofa. Kemudian ku berpindah duduk ke bawah, bersandar pada sofa, dia membaringkan miring badannya dengan tangan menyanggah kepalanya. Dia pun mulai bertanya bagaimana dia bisa ada di kamarku. Sayangnya aku tak bertanya apa yang dia lakukan hingga mabuk dan berada di pintu masuk aparmentku. Seleai dia bertanya, mukaku berpaling kearahnya dan dia kami saling bertatap, dan dia tiba - tiba memajukan wajahnya dan menciumku. Tepat dibibirku. Dia memejamkan mata dan aku hanya diam. 


Part 2 : Bersama

Kamipun sudah bersamaa sekarang, dia adalah suamiku dan akupun adalah istrinya. Hubungan kami sangat baik. Dan hari ini adalah ulang tahunnya. Sebelum mengadakan pesta dengannya, aku mengabari keluarganya bahwa tidak seperti tahun - tahun sebelumnya dia selalu merayakan bersama keluarganya, tahun ini dirinya kuculik dan merayakannya hanya denganku.
Kami duduk berhadapan di meja makan panjang yang menjadi idamanku di dapur aparrment / rumah kami, diantara kami ada sebuah kue ulang tahun dan sebuah lilin panjang untuk dia tiup. Setelah make wishes dan meniup lilinya, akupun bangkit dari kursiku berdiri diantara kedua kakinya dan memeluknya dengan sangat erat sambil ku belai rambutnya. Kemudian kuciumi satu - satu area mukanya, dari kening, kedua pipinya, hidungnya, dagunya dan terakhir bibirnya. Kecupan pertama, "Terima kasih karena telah menjadi seseorang untukku." Kecupan kedua, "Terima kasih telah menjadi suamiku." Kecupan ketiga, kudekatkan mulutku pada telinga nya sambil berbisik. "Terima kasih karena kau akan menjadi ayah dari anakku kelak. Hadiahmu akan kau dapatkan beberapa bulan lagi." Setelah mendengar kalimat terakhirku, dia berdiam dan menatapku tidak percaya. Ku tersenyum lalu kutunjukan hasil pemeriksaanku padanya, "Ya, aku hamil." Setelah dia tersadar, dia memelukku dengan sangaaaattt sangaaaatt erat sambil mengucapkan terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

我可以今年结婚吗?

Sequel : Tulisan terakhir tentangmu

Pendek Kata