Tulisan terakhir tentangmu
Hai dirimu yang ada disana...
Iya kamu, ku berharap besar tulisan ini adalah tulisan terakhir tentangmu. Dan selanjutnya jika tentangmu tertulis lagi, maka kamu sudah berada di tahap yang berbeda dari hari ini.
Kamu tahu? Di diari sebelah yang kini terkunci tanpa bisa kutemukan kuncinya, pernah kutulis tentang dirimu. Kamu yang beberapa tahun ini menjadi wacana dalam hatiku. Mulai dari persinggahanmu di dermagaku, kemudian berlayar ke tempat lain dan selalu ada disana. Hingga ku belajar untuk merelakan semua yang telah tersinggah untuk bisa pergi bersama waktu, namun bahkan dalam mimpi pun kamu menyapa.
Sapaan dalam mimpi yang inginku menjadi bagian dari hari indahmu :
Aku memakai gaun merah marun
Kamu memakai jas hitam keabu-abuan
Diantara lampu temaram dengan suasana klasik
Kutaruh tangan kananku pada pundakmu dan tangan kiri berada diatas tangan kananmu
Kamu menyematkan tangan kiri pada pinggangku dan tangan kananmu menerima tangan kiriku
Kamu melihatku begitu hangatnya
Akupun tersenyum menikmati kehangatannya
Serasa hanya ada kita berdua disana
Kita pun berdansa
Kemudian
Aku menciummu tiba-tiba
Kamu terkejut terpana
Kubisikan Terima kasih
Aku memelukmu dengan erat dan berlalu
serta mimpi yang merupakan awal mula keadaan ini berlangsung:
Kita sedang berlibur, tiba-tiba berada di kamar yang sama di sebuah hotel yang sama dengan dua single bed.
"Ku ingin minum. Biarkan aku minum hingga ku tahu batasku. Kau... Tidak boleh minum, tugasmu menjagaku" kataku padamu.
Selama ini hanya sampai satu titik batasan aku minum, kini aku ingin lebih dari itu. Tak kubiarkan dirimu ikutan minum, selain karena perjanjianmu dengan seseorang, aku juga ingin kamu menjagaku bila terjadi sesuatu hal padaku.
Kemudian kupindah dari ranjangku ke ranjangmu, kurasa ku sudah setengan mabuk.
"Bolehkah ku mencium pipimu untuk terakhir kalinya? Boleh ya?"
Kau melihatku aneh, kutahu kau pasti akan menolak. Tapi kau membiarkanku melakukannya. Lalu ku duduk membelakangimu, punggung ketemu punggung. Seperti yang pernah kau lakukan padaku di awal kita dekat.
"Aku mau tanya satu hal" akhirnya kau membuka suara
"Tanya saja!"
"Apakah kau pernah menyukaiku?"
"Tentu saja pernah, tapi dari awal hatiku mengatakan "Tidak mungkin!"
Beberapa waktu lalu, aku membaca buku judulnya "The Book of Almost", mau tahu alasanku untuk beli buku itu? Karena kuyakini didalamnya akan ada cerita yang selama ini aku rasakan tentang dirimu dan penulis berhasil menulisnya dalam sebuah buku:
"Jika ternyata di akhir cerita memang bukan kau yang Tuhan tunjukan untukku
paling tidak kau adalah masa-masa yang tak akan pernah kusesali dalam menjalaninya"
"Ku rasa, aku tak masalah menunggu sedikit lebih lama jika pada akhirnya yang terbaik memang hadir terakhir. Dan jika aku boleh meminta, rasanya akan terasa jauh lebih baik jika kau yang datang di akhir ceritaku nanti"
Dan aku melanjutkan kedua kalimat tersebut: Dan aku bersyukur bahwa itu adalah dirimu. Disetiap kesempatan saat itu aku sangat menghargainya. Tak ada penyesalan selama itu bersamamu. I love you at that time. Believe it or not, It's you. The one that I hope come to my life and become my long last. Are you my fate?
Besoknya aku berbincang dengan teman baik kita berdua, entah kenapa topik yang disajikan adalah tentang menikah. Berharap kami berdua akan segera menikah. Dua puluh empat jam berlalu, pasanganmu mengirimku sebuah pesan bahwa kau memesan diriku pada tanggal yang kalian sudah tentukan. Jujur, saat itu suasana disekitarku berubah. Aku merasa ada feeling bahwa kalian akan menikah. Benar saja, tanggal itu adalah tanggal pernikahan kalian, kalianpun memilihku sebagai orang penting untung membantu kalian. Pernah terpikir jikapun kamu menikah, ku hanya ingin sebagai tamu. Namun tawaran ini, kurasa untuk menolaknya pun tidak bisa. Kau menginginkan diriku untuk berada disana, menjadi bagian dari hari besarmu dan tidak semata menjadi tamu.
Hal lain yang kupikirkan adalah aku memiliki keinginan, tepatnya harapan ditahun ini: aku ingin aku menikah terlebih dulu dibanding dirimu. Aku ingin mengajakmu "kencan" berdua, ku minta ijin pada pasangan kita masing-masing aku ingin waktu kita berdua. Hanya ada kamu dan aku, tak perlu lama cukup makan siang all you can eat saja sudah cukup. Kemudian kita bisa lanjut double date. Saat kita "kencan" inginku bilang sekali lagi bahwa aku berterima kasih karena kamu menjadi satu-satunya teman yang memiliki ruang tersendiri di hatiku. Spesial... Tidak pernah ada yang hingga masuk sampai sana, sedalam itu. Lalu kita berbincang seperti biasa, bercerita tentang apa saja. Dan kini... Kurasa hal itu tidak akan terjadi. Ku tak tahu apakah aku bisa menikah duluan dari pada dirimu.
Kamu... Ada cerita lain yang tentu saja aku pikirkan, skenario-skenario tentang dirimu. Dan ini kumohonkan pada diriku, pada hatiku, pada otakku, JANGAN PERNAH TERJADI. Ku panjatkan juga pada Tuhan bahwa aku tak ingin menjadi jahat, relakan hatiku untuk melihatmu berjalan bersamanya, membiarkan karma kalian berbuah. Bukan denganku, jangan denganku. Jangan pikir skenario ini mempunyai cerita yang bagus, TIDAK! Dia adalah ide yang buruk, seperti sinetron FTV ataupun novel dengan turning point yang tidak berjalan sesuai rencana awalnya. KUMOHON jangan sampai aku seperti itu. Dari bulan ini pasanganmu memintaku hingga nanti waktunya, KUMOHON SEMESTA MEMBANTUKU merealisasikan rencana besar kalian.
Aku tidak tahu pastinya saat itu bagaimana perasaanku padamu, melihatmu bersanding dengannya untuk selamanya. Semoga sampai saat itu tiba, ada seseorang lain yang datang kepadaku, meminta hatiku untuk dimilikinya. Kaupun mengetahui serta menyertaiku dalam pilihanku. Boleh aku meminta hal itu terjadi padaku?
Boleh kutarik kesimpulan dari tulisan yang panjang ini?
Awalnya kau adalah yang spesial dihatiku, kau memiliki tempat disana hingga saat ini. Kumohonkan pada semesta bahwa aku bisa merealisasikan niat baikmu dengannya yang berarti aku sudah seluruhnya melepasmu dari ikatan hatiku. Dan berharap ada yang lain mengingat hatiku. Serta satu hal yang harus kau tahu, AKU MENYAYANGIMU... Adalah sebagai dirimu,karena itu dirimu...
Komentar